Setelah lama tidak ngeblog, now akhirnya sempet ngeblog juga. Actually sekarang ini aku sudah menikah. Yah, menikah. Sebuah kata yang kedengaran sederhana dan sering kita dengar. Ternyata sebagai awal dari suatu tingkatan kehidupan yang baru, menikah mengandung segala konsekuensi sebagaimana layaknya setiap apapun tindakan kita. Akan tetapi, pada saat telah menikah ini lain. Karena segala sesuatunya tidak hanya berkenaan dengan diri kita pribadi seorang saja, tetapi berimplikasi pada suami, keluarga suami, dan juga tentu saja keluarga kita sebagai sesuatu hal yang akan melekat pada diri kita.
Benarlah jika akad nikah itu merupakan suatu yang besar dan berat. Karena didalamnya terkandung hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang seharusnya dipenuhi oleh kedua belah pihak. Ya, dengan begitu maka hak masing-masing akan terpenuhi sebagai akibatnya. Well, aku menulis ini tentu saja dengan bekalku yang masih sangat minim tentang kehidupan berumah tangga. Ehm, aku sekarang sedang belajar dalam banyak hal. Belajar bagaimana bersikap kepada suamiku, bagaimana melayani suami dengan baik, bagaimana berbakti yang benar, bagaimana aku bergaul dengan teman-teman suamiku (yang mana sangat beragam). Dan, ketika aku mencoba bersikap berubah dari ketika aku masih berkenalan dengan suamiku -yang mana hal ini kuanggap sebagai bentuk penghormatanku padanya-, ternyata suamiku justru kurang menyukainya. Yah, dia lebih suka pada sikapku yang dulu, yang dia bilang percaya diri, kelihatan lebih tegas. Ehm, padahal aku berpikir, kalau aku bersikap seperti dulu, temen-temennya akan beranggapan aku sombong atau terlalu percaya diri. Selain itu, dia juga bilang aku jadi terlalu kalem. Ehm, padahal dulu aku termasuk perfeksionis yang jika ada sedikit aja yang menurutku gak pas, akan cepat berkomentar. Telat dikit aja aku akan protes. Sampai dia bilang aku ini kaya atasan aja, minim dispensasi. Well, ternyata dia merindukan diriku yang dulu (maksudku sebelum kami menikah).
OK, satu hal yang lain adalah mengenai pengambilan keputusan setelah menikah. Ketika aku akan mengambil sebuah keputusan yang kupikir itu hanya akan berakibat pada diriku sendiri saja, ternyata banyak yang protes. Hufh, kadang orang-orang masih terjebak dalam corny paradigm (tanpa bermaksud merendahkan), meski itu sebenarnya sebuah nilai yang klasik yang justru pada zaman beberapa puluh tahun lalu diterapkan. Suatu tatanan hidup berumah tangga yang berimabgn kalau kubilang, tetapi sebagian besar orang justru menganggap itu kuno. Meskipun dalam tatanan kehidupan yang baru ini (yang diterapkan abanyak orang sekarang ini), tidak terbukti menghasilkan generasi yang benar dalam ukuran tata sikap dan pemikiran. Namun, karena hal itu sudah menjadi sebuah trend, maka hal yang out of trend akan dianggap sebagai error. Apalagi jika itu terlihat mencolok. Mungkin pembaca akan bingung dengan paragraf ini. Ya, wajar karena ini adalah sesuatu yang sensitif dan belum ada titik temu antara keluarga kami, jadi ini hanyalah pelepasan dari uneg-unegku saja.
Let’s start with another story. Ini tentang temen-teman suamiku. Ehm, pertama adalah temen-temen SMP dan SMA nya. Yang ini ada juga yang menjadi temenku waktu kuliah. Mereka dengan membawa kepribadian yang begitu beragam, unik, menyenangkan, misterius, dan juga mereka adalah orang-orang yang mumpuni di bidangnya masing-masing. Kebanyakan dari mereka adalah pribadi yang matang dan cerdas. Semoga aku bisa belajar menjadi pribadi yang matang dan cerdas dalam hidup. kemudian temen-temen kerja suami. Yang ini aku baru bertemu sebentar, dan mereka sudah terlarut dalam obrolan seputar mereka (kerjaan dan lingkungan kerja mereka), sehingga aku merasa menjadi outsider aja. Tidak banyak yang bisa kukenal secara personal, jadi aku juga tidak bisa bercerita di sini. Teman-temannya tentu akan mejadi teman-temanku juga, setidaknya dalam artian aku mungkin akan sedikit banyak masuk dalam komunitas itu entah hanya sebagai bentuk kehidupanku sebagai makhluk sosial yang tentunya ada kebutuhan interaksi meskipun intensitasnya berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya.
Kemudian, aku juga mulai mengikuti ritme hidup suamiku, demikian juga dia. Dalam hal makan, dia yang mengikuti ritmeku. OK, bukan berarti aku lebih rakus daripada dia lho. Ini karena aku terbiasa makan teratur, karena aku sakit maag. Masalah jam tidur, aku mulai belajar mengikuti suamiku. Meski aku belum bisa kalau tidur larut, setidaknya gak seperti dulu jam delapan udah zzzzzz….
OK, segini dulu ceritaku dengan awal kehidupan baruku. If, you have any sugestion or anything that will enhance my life, please give me a comment on this post. Thank you