oke dilanjutkan lagi….
Berawal dari ditemukannya mayat lelaki berajah kupu-kupu di lengannya, menuntun ikal pada petunjuk keberadaan gadis cinta pertamanya A Ling. Berdasarkan berita-berita yang Ikal cari, dia mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar A Ling berada di samudra ganas dalam kekuasaan Lanun selat malaka. Entah dia ikut dalam rombongan perahu yang karam atau berada di pulau Batuan yang dikuasai Lanun berilmu hitam tinggi Sang Tambok. Ikal bertekad menemukan A Ling hidup atau mati.
Untuk mencapai tujuannya itu dia mulai menyusun strategi. Satu-satunya jalan menuju ke P. Batuan adalah dengan berlayar dengan parahu milik sendiri, sebab tak ada satupun nelayan yang berani mencapai Batuan. Pergi ke Batuan sama dengan mengantar nyawa. Tapi bukan Ikal juka ia surut dan menyerah begitu saja tanpa ada upaya sampai habis-habisan.
Usaha pertama yang ia lakukan adalah mengumpulkan uang untuk membeli perahu. Dengan harga perahu yang sekitar 100 jutaan, ia harus bekerja membanting tulang dengan menjadi kuli timah dan berae. Akan tetapi, setelah bekerja sedemikian gigihnya, rasanya uang tak jua terkumpul. Sampai kemudian terbersit ide untuk membuat perahu sendiri. Dengan latar belakang pendidikan maupun leluhur keluarganya yang sama sekali tidak pernah berhubungan dengan dunia pelayaran, Ikal nekat mau membuat perahu. Hal ini menjadi perbincangan hangat diantara warga kampung belitong. Bahkan hal itu menjadi taruhan hampir semua pelanggan warung kopi di kampung belitong. Tapi Ikal tak peduli, baginya pantang surut jika dia ingin meraih mimpi. Mimpi bertemu dengan A Ling setelah dia belasan tahun mencarinya sampai ke penjuru Afrika dan Eropa.
Melihat begitu hebat dan gagahnya perahu Mapangi karya pembuat perahu turun temurun di kampungnya, Ikal sempat drop. Ia begitu terpukau akan kehebatan perahu itu, sedangkan dia tak punya secuil pun ilmu tentang perahu. Sampai akhirnya Ikal bertemu dengan sang Newton baginya, Lintang. Sudah menjadi keahlian Lintang untuk membuat hal yang rumit menjadi terlihat sederhana. Hanya dengan satu tips : ‘mengubah sudut pandang’, ide membuat perahu menjadi sangat mungkin dilakukan. Semua bisa dilakukan dengan ILMU. Bahwa Perahu sehebat apapun bekerja diatas prinsip hidrodinamika, dari situlah Ikal memulainya. Dia mulai mempelajari buku-buku kiriman Arai tentang teori perkapalan dari Inggris. (Oya, sampai lupa Arai akhirnya menikah dengan Zakiah, si cewek indifferent. Zakiah dibawa Arai ke Inggris melanjutkan studinya yang sempat terputus karena penyakit Arai). Tetapi dari studi literatur yang dilakukannya Ikal masih mengalami kebuntuan untuk menentukan ukuran-ukran yang tepat supaya perahunya tidak oleng atau tenggelam, berkecepatan tinggi, dan tangguh. Dan sekali lagi sang ilmuwan sejati Lintang menjadi solution maker. Sesuai dengan kegemarannya akan eksperimen, Lintang mengajak Ikal melakukan eksperimen dengan perahu pengangkut kopranya. Dan untuk kesekian kalinya Ikal dibuat terpana oleh kemampuan analitis Lintang. Dari hasil eksperimen serta perhitungan formula matematika dan fisika kapal hasil logikanya, Lintang berhasil menemukan ukuran-ukuran untuk membuat perahu sampai pada ketelitian mm. Begitu memukau kecerdasan sang ilmuwan kopra itu. Kecerdasan yang terus bersinar, meski harus putus dari bangku pendidikan formal.
Berbekal ukuran-ukuran dari Sang genius Lintang, Ikal mulai mencari kayu dan memulai proses pembuatan perahu tersebut. Namun sekali lagi keteguhan Ikal diuji.Para penebang kayu tidak ada yang mau bekerja sama dengannya. Mereka rupanya telah terhasut oleh Eksyen si Melayu yang bertaruh habis-habisan bahwa Ikal tak kan mampu membuat perahu. Padah kayu Seruk itu sangat diperlukan Ikal, sedang musim barat sudah hampir tiba. Pelayaran harus dilakukan sebelum musim barat tiba.
Ikal yang sudah hampir putus asa meminta bantuan dari temannya mahar yang sudah sedemikian rupa masuk ke dalam dunia perdukunan. Ptunjuk yang diperolehnya dari Mahar pun berbentuk teka-teki misterius, yah, mahar memang gila dengan hal-hal yang berbau misterius dan ganjil. Petunjuk itu membawa Ikal pada bangkai kapal Prompak Selat Malaka yang gagah, namun karam di dasar Sungai karena tertembak Kapal VOC ratusan tahun silam. Kali ini Ikal menghadapi masalah yang rumit lagi. Bagaimana caranya dia bisa mengambil kayu seruk yang telah membatu dan terikat kuat oleh pasak-pasak yang juga membatu karena telah terendam ratusan tahun dia air. Namun hal mustahil ini kembali dipecahkan oleh Lintang dengan menggunakan ilmu fisika dan memanfaatkan sifat air dan tekanan. Yup Hukum Archimedes.
Disaksikan oleh para penduduk kampung belitong, Lintang, Ikal dan laskar pelangi menyuguhkan atraksi ilmu yang mencengangkan. Ya, mereka berhasil membangunkan sang makhluk raksasa yang telah tidur ratusan tahun dari dasar sungai dengan memanfaatkan tekanan 24 drum. Sekali lagi atraksi ilmu Lintang di novel ini terbukti. Hasil perhitungannya benar-benar mampu mengangkat perahu dengan berat ber ton-ton itu ke permukaan sungai. Amazing! but, i don’t know wether its true or not, ohhh…please…its fiction book.
Tak hanya itu, kemampuan Lintang kemudian terbukti lagi ketika perahu rancangan Lintang yang dibuat oleh Ikal dan laskar pelangi, sukses besar waktu pertama kali diujicobakan ke air. Selamat !! Para petaruh yang kalah taruhan karena ternyata perahu buatan Ikal telah menjadi kenyataan harus memenuhi janjinya karena semua telah tercatat dengan rapi di warung kopi.
to be continued……